Langsung ke konten utama

BAB 4: DUA PILAR AQIDAH ASWAJA — IMAM AL-ASY‘ARĪ & IMAM AL-MĀTURĪDĪ

Kenapa Harus Kenal Mereka?

Bayangin kamu naik kapal besar menuju keselamatan. Tapi kalau kamu gak tahu siapa nakhodanya, bisa-bisa nyasar ke pulau ideologi ngawur. Nah, dua imam inilah nakhoda utama aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah: Imam Abū al-Ḥasan al-Asy‘arī dan Imam Abū Manṣūr al-Māturīdī.

> KH. Ali Mustafa Yaqub:
"Kalau bukan karena jasa Imam Asy‘arī dan Māturīdī, mungkin sekarang umat Islam sudah tenggelam dalam lautan filsafat atau khurafat."




---

1. IMAM ABU AL-HASAN AL-ASY‘ARĪ (873–936 M)

Sekilas Sejarah Pemikirannya

Imam Asy‘arī berasal dari keluarga ilmuwan besar. Awalnya, ia adalah murid setia al-Jubbā’ī, tokoh besar Mu’tazilah. Selama 40 tahun, ia menganut paham rasionalis ekstrem.

Namun, setelah krisis intelektual dan kegelisahan spiritual, ia meninggalkan Mu’tazilah dan menyatakan tobat di Masjid Bashrah.

> قال الإمام الأشعري: "تبرأت من كل مذهب يخالف السنة والجماعة."
"Aku berlepas diri dari semua mazhab yang menyelisihi Sunnah dan Jama‘ah."
(al-Ibānah ‘an Uṣūl ad-Diyānah)



Sejak saat itu, ia menyusun ulang teologi Islam dengan pendekatan:

Setia pada wahyu (naqli)

Tidak anti akal (aqli)

Menolak tafsir ekstrem baik literal maupun filosofis


Beliau menulis lebih dari 100 karya, termasuk:

al-Luma‘ (kitab debat dengan Mu’tazilah)

al-Ibānah (manifesto teologinya)



---

2. IMAM ABU MANSUR AL-MĀTURĪDĪ (853–944 M)

Sekilas Sejarah Pemikirannya

Imam Māturīdī berasal dari Samarkand, Asia Tengah. Ia belajar langsung dari jalur ulama Ahlussunnah yang bersambung ke Imam Abū Ḥanīfah.

Tak seperti Asy‘arī yang pernah ikut aliran ekstrem, Māturīdī lahir dalam lingkungan Sunni tradisional dan sejak awal melawan kelompok-kelompok sesat seperti:

Mu’tazilah

Qadariyah

Syi’ah ekstrem

Karāmiya dan Mujassimah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk)


Ia menyusun teologi Islam yang sistematis dalam kitab:

Kitāb at-Tawḥīd

Ta’wīlāt Ahl as-Sunnah (tafsir kalamiy)


> قال الإمام الماتريدي: "الله لا يُدرَك بالعقول، ولكن يُعْرَف بها."
"Allah tidak dapat dilingkupi oleh akal, tapi bisa dikenali dengan akal."




---

Apa Bedanya Mereka?

Dari segi substansi, keduanya sama: Ahlussunnah sejati. Tapi pendekatannya sedikit berbeda:

> Imam Sa‘duddin at-Taftazani:
"Aqidah Ahlussunnah terbagi dua: Asy‘ariyah dan Maturidiyah. Keduanya adalah jalan yang lurus dan menyelamatkan."




---

Kutipan KH. Said Aqil Siraj

> KH. Said Aqil Siraj:
"Kalau ingin umat Islam kuat, harus kembali ke Asy‘ariyah dan Maturidiyah. Itulah akidah moderat, toleran, ilmiah, dan terbuka — jauh dari radikalisme."



Dalam banyak forum internasional, beliau menegaskan bahwa Asy‘ariyah dan Maturidiyah adalah identitas utama umat Islam Indonesia — bukan sekadar teori, tapi realitas sejarah yang mewujud dalam NU dan pesantren-pesantren.

> "Asy‘ariyah bukan hanya mazhab aqidah. Ia adalah benteng peradaban Islam dari radikalisme dan liberalisme yang sama-sama merusak."
(KH. Said Aqil dalam Muktamar Internasional Islam Moderat, 2016)




---

Penutup Bab

Dua imam besar ini bukan hanya tokoh klasik, tapi mata rantai keilmuan kita hari ini. Ajaran mereka masih hidup, mengalir di pesantren, buku-buku tauhid, khutbah, bahkan di hati orang tua kita yang ngajarin "Allah itu esa, tidak serupa dengan makhluk."

Mereka mengajarkan iman yang berfikir, dan akal yang beriman.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PMII di Tengah Gelombang Zaman

Oleh: Solikhan, S.Sos Pendahuluan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan berbasis nilai keislaman dan kebangsaan yang telah eksis sejak tahun 1960. Di tengah dinamika zaman yang terus bergulir dengan cepat, mulai dari era revolusi digital, pergeseran nilai sosial, hingga tantangan kebangsaan dan keagamaan, PMII dituntut untuk mampu memosisikan diri secara strategis. Organisasi ini tidak bisa berjalan dengan model lama di era baru. Maka, esai ini akan mengulas posisi, peran, evaluasi, tantangan, serta langkah yang harus ditempuh PMII agar tetap relevan dan progresif di tengah gelombang zaman. 1. Posisioning PMII PMII menempati posisi strategis sebagai jembatan antara idealisme mahasiswa, nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, dan semangat kebangsaan. Menurut Tilaar (2002), mahasiswa memiliki peran sebagai moral force dan agent of social change, yang dalam konteks PMII harus dibingkai dengan nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin d...

ASWAJA SEBAGAI MANHAJUL FIKR WAL HAROKAH

(Disusun oleh : Solikhan) Disampaikan pada PKD PMII Komisariat Nusantara UMNU Kebumen Kamis, 8 Agustus 2019 di Bumi Perkemahan Widoro Pokok bahasan Latar belakang sosio-politik dan sosio-kultur kemunculan Ahlussunnah wal Jama'ah dan proses pelembagaan madzhab Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai doktrin Sanad ke-Islaman dalam ajaran yang benar, yang dijalankan oleh Rosulullah SAW dan para sahabat, Tabiin, Tabiit-tabiin, Ulama, dst PMII sebagai organisasi pewaris Sanad Ajaran Islam yang benar, didirikan oleh ulama dan mendapatkan mandat untuk memperjuangkan Islam Aswaja di Kampus Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai Manhajul Fikr (Metode berfikir) dan sebagai Manhajul Harokah (Metode bergerak) Memahami kerangka berfikir Ahlussunnah wal Jama'ah yang dinukil dari perjalanan para Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Memahami dan mengimplementasikan metode berfikir Ahlussunnah wal Jama'ah dalam berdakwah dan menyikapi persoalan Geo-Ekosospol عن عبد ال...

BAB 3: JALUR ASWAJA — FIKIH, AQIDAH, DAN TASAWWUF

ASWAJA: Tiga Jalur Satu Tujuan ASWAJA ibarat tripod kokoh. Ia berdiri di atas tiga pilar utama: 1. Aqidah (العقيدة) – keyakinan kepada Allah dan segala yang wajib diyakini 2. Fikih (الفقه) – aturan ibadah dan muamalah 3. Tasawuf (التصوف) – penyucian jiwa dan akhlak > قال الإمام الغزالي: "الطريق إلى الله تعالى لا يمكن أن يُسلك إلا بعلم وعمل وحال." "Jalan menuju Allah tidak bisa ditempuh kecuali dengan ilmu, amal, dan keadaan (spiritualitas)." (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn) 1. Aqidah: Jalan Keyakinan yang Kokoh Aqidah dalam ASWAJA dipandu oleh dua imam agung: Imam Abū al-Ḥasan al-Asy‘arī (الأشعري) Imam Abū Manṣūr al-Māturīdī (الماتريدي) Mereka menyatukan dalil naqli dan aqli, menghadapi ekstremisme dalam teologi, dan membela kemurnian Islam. > قال الإمام النووي: "مذهب أهل الحق أن أفعال العباد مخلوقة لله تعالى، وهي كسبٌ لهم." "Mazhab yang benar adalah bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh Allah, namun tetap merupakan usaha (ikhtiar) mereka." (Syarḥ Ṣa...