Langsung ke konten utama

BAB 10: RELEVANSI ASWAJA DI ZAMAN MODERN

ASWAJA, Jalan Tengah di Tengah Gempuran Zaman

Zaman sekarang bukan hanya era teknologi, tapi juga era kebingungan.
Hoaks berseliweran, paham-paham radikal berkedok dalil, dan sebagian orang muda kehilangan arah antara ekstrem kanan yang kaku dan ekstrem kiri yang lepas kendali.

ASWAJA hadir sebagai penuntun jalan tengah.
Bukan jalan kompromi, tapi jalan keseimbangan antara teks dan konteks, antara dalil dan realitas.

> Gus Dur:
"Menjadi muslim yang baik tidak harus menjadi orang Arab. Jadilah dirimu sendiri, dengan keindonesiaan dan keislaman yang bersatu."




---

ASWAJA: Bukan Nostalgia, Tapi Arah Masa Depan

ASWAJA bukan hanya milik masa lalu, bukan sekadar sejarah ulama.
Tapi konsep hidup yang masih sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman:

Toleransi antarumat beragama

Moderasi beragama

Perlawanan terhadap radikalisme

Pemberdayaan perempuan dan anak muda

Adaptasi teknologi tanpa kehilangan nilai



---

Pesan untuk Generasi Muda, Mahasiswa, dan Aktivis NU

1. Untuk IPNU & IPPNU:

Kalian adalah garda terdepan di sekolah-sekolah dan madrasah.
Jangan hanya jadi pelajar biasa—jadilah pelajar yang berani berpikir kritis, tapi tetap santun.

> "Belajarlah hingga ke mana pun, tapi jangan lupakan arah pulang: ASWAJA."




---

2. Untuk PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia):

Kalian adalah motor perubahan di kampus.
Jangan alergi terhadap perbedaan, tapi juga jangan kompromi pada akidah.

> "Jangan bawa ASWAJA hanya ke forum seminar. Bawalah ke ruang-ruang diskusi, riset, bahkan ke algoritma media sosial."




---

3. Untuk Ansor dan Banser:

Kalian bukan hanya penjaga, tapi juga pelayan umat dan pelindung nilai-nilai kebangsaan.
Jaga akidah umat, jaga NKRI, tapi juga jaga kelembutan hati.

> "Banser bukan sekadar barisan, tapi barisan dengan cinta dan kesadaran."




---

4. Untuk Fatayat NU:

Kalian adalah pelita di tengah perempuan muda.
Berdayalah dengan ilmu, berdakwahlah dengan kasih sayang.

> "Kesalehan perempuan ASWAJA bukan hanya dari pakaian, tapi juga dari pikiran dan perjuangan."




---

Tantangan Zaman Digital: ASWAJA Harus Melek Media

Zaman sekarang, perang bukan hanya di medan tempur, tapi di media sosial.
Narasi-narasi keislaman yang ekstrem, kaku, bahkan penuh kebencian sering kali viral.
Maka, generasi muda ASWAJA harus:

Aktif menulis, membuat konten, menyampaikan Islam dengan ramah

Melek literasi digital

Menguasai narasi, bukan hanya jadi konsumen narasi


> KH. Said Aqil Siraj:
"Kita harus melawan radikalisme dengan keilmuan, bukan hanya dengan emosi."




---

Akhir Kata: Jadilah Generasi ASWAJA yang Berkarya

Jangan cuma bangga jadi "anak NU", tapi jadilah kader ASWAJA yang berpikir luas, berjiwa besar, dan berkarya nyata.

> "ASWAJA bukan sekadar label. Ia adalah sikap hidup, cara berpikir, dan jalan perjuangan."



Maka teruslah belajar, berdakwah, dan berkarya.
Jadilah santri milenial yang handal, mahasiswa NU yang kritis, aktivis yang moderat, dan kader yang membawa rahmat bagi semesta.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PMII di Tengah Gelombang Zaman

Oleh: Solikhan, S.Sos Pendahuluan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan berbasis nilai keislaman dan kebangsaan yang telah eksis sejak tahun 1960. Di tengah dinamika zaman yang terus bergulir dengan cepat, mulai dari era revolusi digital, pergeseran nilai sosial, hingga tantangan kebangsaan dan keagamaan, PMII dituntut untuk mampu memosisikan diri secara strategis. Organisasi ini tidak bisa berjalan dengan model lama di era baru. Maka, esai ini akan mengulas posisi, peran, evaluasi, tantangan, serta langkah yang harus ditempuh PMII agar tetap relevan dan progresif di tengah gelombang zaman. 1. Posisioning PMII PMII menempati posisi strategis sebagai jembatan antara idealisme mahasiswa, nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, dan semangat kebangsaan. Menurut Tilaar (2002), mahasiswa memiliki peran sebagai moral force dan agent of social change, yang dalam konteks PMII harus dibingkai dengan nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin d...

ASWAJA SEBAGAI MANHAJUL FIKR WAL HAROKAH

(Disusun oleh : Solikhan) Disampaikan pada PKD PMII Komisariat Nusantara UMNU Kebumen Kamis, 8 Agustus 2019 di Bumi Perkemahan Widoro Pokok bahasan Latar belakang sosio-politik dan sosio-kultur kemunculan Ahlussunnah wal Jama'ah dan proses pelembagaan madzhab Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai doktrin Sanad ke-Islaman dalam ajaran yang benar, yang dijalankan oleh Rosulullah SAW dan para sahabat, Tabiin, Tabiit-tabiin, Ulama, dst PMII sebagai organisasi pewaris Sanad Ajaran Islam yang benar, didirikan oleh ulama dan mendapatkan mandat untuk memperjuangkan Islam Aswaja di Kampus Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai Manhajul Fikr (Metode berfikir) dan sebagai Manhajul Harokah (Metode bergerak) Memahami kerangka berfikir Ahlussunnah wal Jama'ah yang dinukil dari perjalanan para Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Memahami dan mengimplementasikan metode berfikir Ahlussunnah wal Jama'ah dalam berdakwah dan menyikapi persoalan Geo-Ekosospol عن عبد ال...

BAB 3: JALUR ASWAJA — FIKIH, AQIDAH, DAN TASAWWUF

ASWAJA: Tiga Jalur Satu Tujuan ASWAJA ibarat tripod kokoh. Ia berdiri di atas tiga pilar utama: 1. Aqidah (العقيدة) – keyakinan kepada Allah dan segala yang wajib diyakini 2. Fikih (الفقه) – aturan ibadah dan muamalah 3. Tasawuf (التصوف) – penyucian jiwa dan akhlak > قال الإمام الغزالي: "الطريق إلى الله تعالى لا يمكن أن يُسلك إلا بعلم وعمل وحال." "Jalan menuju Allah tidak bisa ditempuh kecuali dengan ilmu, amal, dan keadaan (spiritualitas)." (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn) 1. Aqidah: Jalan Keyakinan yang Kokoh Aqidah dalam ASWAJA dipandu oleh dua imam agung: Imam Abū al-Ḥasan al-Asy‘arī (الأشعري) Imam Abū Manṣūr al-Māturīdī (الماتريدي) Mereka menyatukan dalil naqli dan aqli, menghadapi ekstremisme dalam teologi, dan membela kemurnian Islam. > قال الإمام النووي: "مذهب أهل الحق أن أفعال العباد مخلوقة لله تعالى، وهي كسبٌ لهم." "Mazhab yang benar adalah bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh Allah, namun tetap merupakan usaha (ikhtiar) mereka." (Syarḥ Ṣa...