Langsung ke konten utama

BAB 1: ASWAJA ITU APA SIH?

ASWAJA: Singkatan Bukan Sekadar Label

Kamu pasti pernah denger istilah “ASWAJA”—entah dari guru ngaji, pesantren, atau saat scroll medsos. Tapi sebenarnya, ASWAJA itu bukan sekadar label keren buat branding keislaman, lho.

ASWAJA adalah singkatan dari Ahlussunnah wal Jama’ah, yang secara harfiah berarti “pengikut sunnah Nabi dan kebersamaan (jama’ah)”. Maksudnya: kelompok umat Islam yang berpegang teguh pada ajaran Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan jalan para ulama setelahnya.

Imam Abu al-Muzhaffar al-Sam’ani (w. 489 H) dalam al-Intiṣār li Ahl al-Ḥadīṡ menegaskan bahwa:

> "Setiap orang yang berpegang pada hadits Nabi, dan hidup di atas jalan sahabat, dia adalah bagian dari Ahlussunnah wal Jama’ah."



Artinya, jadi ASWAJA itu bukan soal atribut, tapi soal manhaj (jalan berpikir dan bersikap).


---

Ahlussunnah wal Jama’ah: Nama Keren Umat Tengah

Salah satu ciri utama ASWAJA adalah moderat. Nggak nyeleneh kanan, nggak ngaco kiri. Dalam istilah ilmiahnya: tawasuth (pertengahan), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran).

Nggak gampang nyalahin orang, tapi juga nggak cuek terhadap penyimpangan. Prinsipnya jelas:

Yang haq tetap haq, yang batil tetap batil.

Tapi cara menyampaikan harus santun dan bijak.


Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn sering mengingatkan bahwa kebenaran itu penting, tapi tidak kalah penting adalah akhlak dalam menyampaikan kebenaran.


---

Siapa Aja yang Termasuk ASWAJA?

Dalam bidang fikih, mayoritas umat Islam yang mengikuti salah satu dari empat mazhab besar—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali—termasuk dalam kelompok ASWAJA.

Sedangkan dalam aqidah, dua tokoh besar yang menjadi rujukan ASWAJA adalah:

Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H)

Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H)


Dua imam ini dikenal sebagai penjaga aqidah Islam dari penyimpangan, baik dari arah rasionalisme ekstrem (seperti Mu’tazilah) maupun dari faham literal tanpa kontekstual (seperti kaum mujassimah).

Kalau kamu ziarah kubur, baca qunut Subuh, atau tahlilan bareng tetangga, besar kemungkinan kamu sudah menjalankan tradisi ASWAJA. Bukan karena ikut-ikutan, tapi karena memang itu yang diwariskan oleh ulama Nusantara kita.


---

Kenapa Kita Harus Ikut ASWAJA?

Jawaban singkatnya: karena ini jalan yang lurus tapi nggak kaku, luas tapi nggak lepas.

ASWAJA ngajarin kita untuk:

Beragama dengan ilmu, bukan asumsi.

Mengikuti ulama yang bersambung sanadnya ke Nabi SAW.

Menghindari fanatisme buta, tapi juga nggak ikut arus aja.


Menurut Prof. KH. Said Aqil Siradj, ASWAJA itu bukan hanya soal aqidah, tapi juga cara berislam yang beradab, ramah, dan penuh kasih sayang (Islam Nusantara: Relasi Agama dan Budaya, 2015).

Dan lebih dari itu, ASWAJA adalah perekat umat di tengah perbedaan. Di saat banyak kelompok saling serang dan menyesatkan, ASWAJA hadir membawa udara sejuk: dakwah santun, cinta damai, dan tetap tegas dalam prinsip.


---

Penutup Bab

Jadi, ASWAJA bukan hal baru. Ia adalah warisan panjang dari ulama-ulama agung sejak abad pertama Hijriyah sampai hari ini. Kalau kamu mau jadi muslim yang lurus, lembut, dan lurus jalan—ASWAJA tempatnya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PMII di Tengah Gelombang Zaman

Oleh: Solikhan, S.Sos Pendahuluan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan berbasis nilai keislaman dan kebangsaan yang telah eksis sejak tahun 1960. Di tengah dinamika zaman yang terus bergulir dengan cepat, mulai dari era revolusi digital, pergeseran nilai sosial, hingga tantangan kebangsaan dan keagamaan, PMII dituntut untuk mampu memosisikan diri secara strategis. Organisasi ini tidak bisa berjalan dengan model lama di era baru. Maka, esai ini akan mengulas posisi, peran, evaluasi, tantangan, serta langkah yang harus ditempuh PMII agar tetap relevan dan progresif di tengah gelombang zaman. 1. Posisioning PMII PMII menempati posisi strategis sebagai jembatan antara idealisme mahasiswa, nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, dan semangat kebangsaan. Menurut Tilaar (2002), mahasiswa memiliki peran sebagai moral force dan agent of social change, yang dalam konteks PMII harus dibingkai dengan nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin d...

ASWAJA SEBAGAI MANHAJUL FIKR WAL HAROKAH

(Disusun oleh : Solikhan) Disampaikan pada PKD PMII Komisariat Nusantara UMNU Kebumen Kamis, 8 Agustus 2019 di Bumi Perkemahan Widoro Pokok bahasan Latar belakang sosio-politik dan sosio-kultur kemunculan Ahlussunnah wal Jama'ah dan proses pelembagaan madzhab Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai doktrin Sanad ke-Islaman dalam ajaran yang benar, yang dijalankan oleh Rosulullah SAW dan para sahabat, Tabiin, Tabiit-tabiin, Ulama, dst PMII sebagai organisasi pewaris Sanad Ajaran Islam yang benar, didirikan oleh ulama dan mendapatkan mandat untuk memperjuangkan Islam Aswaja di Kampus Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai Manhajul Fikr (Metode berfikir) dan sebagai Manhajul Harokah (Metode bergerak) Memahami kerangka berfikir Ahlussunnah wal Jama'ah yang dinukil dari perjalanan para Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah Memahami dan mengimplementasikan metode berfikir Ahlussunnah wal Jama'ah dalam berdakwah dan menyikapi persoalan Geo-Ekosospol عن عبد ال...

BAB 3: JALUR ASWAJA — FIKIH, AQIDAH, DAN TASAWWUF

ASWAJA: Tiga Jalur Satu Tujuan ASWAJA ibarat tripod kokoh. Ia berdiri di atas tiga pilar utama: 1. Aqidah (العقيدة) – keyakinan kepada Allah dan segala yang wajib diyakini 2. Fikih (الفقه) – aturan ibadah dan muamalah 3. Tasawuf (التصوف) – penyucian jiwa dan akhlak > قال الإمام الغزالي: "الطريق إلى الله تعالى لا يمكن أن يُسلك إلا بعلم وعمل وحال." "Jalan menuju Allah tidak bisa ditempuh kecuali dengan ilmu, amal, dan keadaan (spiritualitas)." (Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn) 1. Aqidah: Jalan Keyakinan yang Kokoh Aqidah dalam ASWAJA dipandu oleh dua imam agung: Imam Abū al-Ḥasan al-Asy‘arī (الأشعري) Imam Abū Manṣūr al-Māturīdī (الماتريدي) Mereka menyatukan dalil naqli dan aqli, menghadapi ekstremisme dalam teologi, dan membela kemurnian Islam. > قال الإمام النووي: "مذهب أهل الحق أن أفعال العباد مخلوقة لله تعالى، وهي كسبٌ لهم." "Mazhab yang benar adalah bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh Allah, namun tetap merupakan usaha (ikhtiar) mereka." (Syarḥ Ṣa...